Matahari
Mungkin cintanya tak terlihat, hangat sikapnya tak terasa tetapi aku yakin kaulah yang mencintaiku paling tulus di antara laki-laki yang lain.
Aku mengingatnya, sebagai sosok yang dingin dan tak pandai mengungkapkan cintanya dengan baik. Namun, dari gelagatnya serta pengorbanan yang diberikannya, aku bersaksi bahwa ia sangat mencintaiku dengan sepenuh hatinya bahkan jiwa raganya. Tetapi, sifat dinginnya itu pula yang tak jarang membuat aku kesal bahkan sedih dengan sendirinya. Padahal aku juga tahu, bahwa ia adalah sosok yang mencintai dalam diamnya, dalam kerja kerasnya, dalam setiap teriakannya dan dalam setiap pelukannya.
Mungkin matahari adalah perumpamaan yang cocok untuknya. Teriknya matahari yang tak jarang membuatku bercucuran keringat. Teriknya yang sering kali membuatku merasa begitu tersiksa. Tetapi, dengan teriknya pula ia menjadi salah satu sumber energi untuk dunia ini bahkan untuk diriku sendiri. Iya, dia sosok yang seperti itu. Sering kali membuatku merasa lelah, letih, bahkan tak sanggup dengan apa yang diberikannya, tetapi perlahan waktu berjalan, satu persatu mulai kupahami apa-apa yang menjadi didikannya selama ini. Bahkan berulang kali, aku mengucapkan syukur bahwa ia menjadi wasilah untuk membuat diriku seperti saat ini.
Ia adalah sosok yang menginspirasiku. Yang memberi kekuatan untuk terus berjalan di tengah jalanan yang penuh onak dan duri. Ia yang membuatku untuk tidak pantang menyerah dengan segala cita-cita yang ada. Yang sabar mengjariku berbagai hal walau tidak dengan kelembutan. Tak jarang, raut wajahnya berubah menjadi kesal serta suaranya yang tegas berubah jadi nada tinggi tak beraturan. Tapi, ya. Kini aku mengerti, semua itu adalah bentuk dari latihan untuk mencapai sesuatu yang kita impikan. Kesalahan mungkin selalu ada, tetapi sikap terbuka dan mau belajar yang membuat seseorang akan terus berkembang. Walau semua itu tidak mudah.
Aku kembali mengingat bagaimana berbagai benda akan mendarat di tubuhku, bagaimana tangannya membawa tubuhku yang mungil ke berbagai tempat, bagaimana suaranya yang tegas dan lugas menemani celotehanku. Aku kembali tersenyum mengenang semuanya. Energi yang diberikannya selama ini, ternyata menjadi bekal untuk aku menghadapi segala kerasnya jalan hidupku. Aku tidak lagi peduli, jika ada yang mengatakan bahwa jalan hidupku tak sebagaimana terjalnya dengan jalan hidup orang lain. Karena ini perihal duniaku. Bukan dunianya atau bahkan dunia mereka.
Aku ingin berbisik di telinganya, betapa aku mencintainya dengan seluruh hidupku. Bahwa aku selalu membawa namanya dalam setiap sujud juga doa-doa panjangku. Semoga Allah membalas semua kebaikanmu dengan sebaik-baiknya. Aku mencintainya melebihi apa yang ia tahu tentang diriku.
Dari yang mencintaimu dengan sangat dalam...
Terima kasih.
Komentar
Posting Komentar