Kerumitan Isi Kepala
Bukan sekali atau dua kali bahkan semenjak menduduki bangku menengah pertama pikiranku tak pernah sesederhana remaja lain pada umumnya. Di kepalaku berkelindan segala hal yang banyak orang bilang adalah hal yang asburd. Aku sering memikirkan tentang takdir hidupku. Kenapa harus berjalan seperti ini, kenapa harus aku yang mengalami ini semua, mengapa aku harus bertemu dengan si A, B, C, atau D. Aku kerap kali memikirkan apa sebenarnya yang Tuhan inginkan pada diriku. Apa hikmah rangkaian hidupku dari dulu hingga saat ini.
Sering kali aku memikirkan untuk pergi ke suatu tempat yang tidak ada satu orang pun mengenalku. Aku datang berjalan menyusuri jalanan, melihat-lihat lingkungan sekitar sambil memikirkan segala hal yang terlintas. Singgah di kedai kopi yang syahdu dan menyeruput kopi panas. Lalu aku membaca buku, menulis sambil tertawa atau kadang menitikan air mata karena hanyut pada cerita-cerita di novel yang sedang kubaca.
Sesekali menyapa orang lain yang berpapasan dengan senyuman atau kalimat basa-basi yang tidak basik. Atau aku menyengaja menemui seorang ibu atau bapak untuk sekadar bercengkrama menanyai daerah yang kukunjungi. Tentang apa dan bagaimana keharmonisan keharmonisan atau masalah yang terjalin di tempat tersebut. Kerap kali di kepalaku terlintas alur tempat seperti yang ada di sinetron FTV daerah Bali.
Seringkali, pikiranku berkata A tindakanku melakukan B. Tidak adanya kesinkronan antara pikiran dan tindakan. Kemudian akan ada hati yang menyesali. Padahal tidak seharusnya seperti itu. Entah apa yang salah dengan itu semua. Barangkali memang ini proses belajar, untuk mendengarkan kata hati, menjalankannya dengan tindakan.
Perlahan, pikiran-pikiran rumit itu kusadari mulai seperti benang kusut yang menemukan jalan untuk terelai. Tidak sepenuhnya lurus, tapi setidaknya sudah berkurang sedikit demi sedikit. Aku hanya perlu sabar menghadapi diriku sendiri di berbagai cuaca. Belajar berwelasasih meskipun terasa sulit dan inginnya terus menekan untuk menjadi lebih baik. Tapi, tidak selalu cara menekan itu baik. Perlu improvisasi agar seimbang apa yang masuk pada diri sendiri.
Komentar
Posting Komentar